.
1. Pengertian
Menurut bahasa latin, humaniora disebut artes
liberales yaitu studi tentang kemanusiaan. Sedangkan menurut
pendidikan Yunani Kuno, humaniora disebut dengan trivium, yaitu logika,
retorika dan gramatika. Pada hakikatnya humaniora adalah ilmu-ilmu yang
bersentuhan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mencakup etika, logika,
estetika, pendidikan pancasila, pendidikan kewarganegaraan, agama dan
fenomenologi.
2. Humaniora sebagai ilmu, teknologi, dan nilai.
a)
HUMANIORA DAN ETIKA
Bila humaniora memusatkan perhatian kepada manusia, etika sebagai ilmu
merupakan bagian dari filsafat yang mempelajari nilai baik-buruk, benar-salah,
pantas-tidak pantas dalam kehidupan manusia dalam berinteraksi dengan manusia
dan lingkungannya (Hariadi, 2005). Tampak ada bidang tumpang tindih antara
humaniora dan etika. Humanisme atau humanitarianisme dapat berarti juga etika,
yakni faham, ajaran, bahwa satu-satunya kewajiban moral manusia adalah bekerja
untuk kebaikan, perbaikan dan kesejahteraan manusia (Moris, 1981).
b)
HUMANIORA SEBAGAI NILAI
Di
muka telah dijelaskan bahwa adanya akal dan budidaya pada manusia, telah
menyebabkan adanya perbedaan cara dan pola hidup di antara keduanya. Oleh
karena itu, akal dan budi menyebabkan manusia memiliki cara dan pola hidup yang
berdimensi ganda, yakni kehidupan yang bersifat material dan kehidupan yang
bersifat spiritual. Manusia dimanapun dia berada dan apapun kedudukannya selalu
berpengharapan dan berusaha merasakan nikmatnya kedua jenis kehidupan tersebut.
Hal
di atas sebagaimana kodrat dari Tuhan bahwasanya manusia memang ditakdirkan
bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar mereka saling mengenal. Saling mengenal
di sini diartikan bahwasanya agar mereka yang berbeda-beda itu bisa saling
melengkapi dalam artian memberi dan menerima.
Kemajuan
dan perkembangan yang hanya terbatas pada kemajuan material saja akan
menimbulkan kepincangan pada kehidupan manusia. Kehidupan mereka kurang sempurna,
dimensi di dalamnya akan hilang, karena batin mereka kosong akibatnya tidak
akan memperoleh ketenteraman, ketertiban hidup, melainkan justru dapat lebih
rusak karenanya.
Material
dan spiritual adalah dua hal yang saling melengkapi. Dua hal ini bagaikan jasad
dan ruh. Kebahagiaan material akan menunjang jasmani kita, sedangkan
kebahagiaan spiritual akan menunjang ruhani kita.
c)
HUMANIORA DAN PENGEMBANGAN ILMU DAN TEKNOLOGI
Penguasaan dan pengembangan ilmu dan teknologi adalah amanat kemanusiaan, oleh
karena itu harus memberi manfaat bagi kesejahteraan manusia. Humaniora membawa
nilai-nilai budaya manusia. Nilai-nilai tersebut adalah universal. Tanpa
humaniora pengembangan ilmu dan teknologi tidak lagi bermanfaat bagi manusia.
Pengembangan/ perkembangan yang banyak disusupi nilai-nilai bisnis menimbulkan
hedonisme yang bermula di masyarakat bisnis, yang berlanjut pada umunya.
d)
HUMANIORA DAN ILMU KEDOKTERAN
Lebih khusus dalam kaitan dengan pengembangan ilmu dan teknologi, ialah Iptek
Kedokteran. Kedokteran adalah ilmu yang paling manusiawi, seni yang paling
indah, dan humaniora yang paling ilmiah (Pellegrino, 1970).
Clauser
(1990) berpendapat bahwa mempelajari humaniora – sastra, filsafat, sejarah –
dapat meningkatkan kualitas pikir (qualities of mind) yang diperlukan dalam
ilmu kedokteran. Kualitas pikir tidak lagi terfokus pada hal-hal hafalan,
materi baku, konsep mati, tetapi ditingkatkan dalam hal kemampuan kritik,
perspektif yang lentur, tidak terpaku pada dogma, dan penggalian nilai-nilai
yang berlaku didalam ilmu kedokteran. Menurunnya studi kedokteran cenderung
memfokuskan mindset pada ujian, diskusi yang monoton tentang
pasien, hasil laboratorium, insiden, banyak pasien, dan lain-lain. Humaniora
membebaskan kita dari terkunci dalam satu mindset. Kita perlu
kelenturan dalam mengubah perspektif, dan mengubah interpretasi bila
diperlukan. Dengan sastra, seseorang (mahasiswa kedokteran) dapat mengembangkan
empati dan toleransi, mencoba menempatkan diri dalam gaya hidup, imaginasi,
keyakinan yang berbeda.
Ilmu kedokteran, selain ilmu-ilmu dasar, adalah juga profesi. Pengembangan
profesi cenderung mengkotak-kotakkan pada bidang spesialisasi. Seorang
spesialis cenderung memahami hanya bidang spesialisasinya saja. Tuntutan
efektif-efisien, perhitungan cost-benefit cenderung menghapus
nilai empati, kurang dapat menempatkan diri sebagai penderita. Hubungan
dokter-pasien menjadi kurang manusiawi. Humaniora memperbaiki kondisi tersebut
Tidak ada komentar:
Posting Komentar