KONSEP
DASAR ETIKA UMUM II
1. HATI NURANI
¨Hati
nurani memerintahkan atau melarang kita untuk melakukan sesuatu. Ia tidak
berbicara tentang yang umum, melainkan tentang situasi yang sangat konkret.
Tidak mengikuti hati nurani ini berarti menghancurkan integritas pribadi kita
dan mengkhianati martabat terdalam kita. Hati nurani berkaitan erat dengan
kenyataan bahwa manusia mempunyai kesadaran. Dan di dalam diri manusia terjadi
proses penggandaan, yaitu pengenalan sebagai subjek dan objek
Hati Nurani dibedakan
menjadi dua :
1.Hati
nurani retrospektif
Memberikan
penilaian tentang perbuatan-perbuatan yang telah berlangsung di masa lampau. Ia
menyatakan bahwa perbuatan yang telah ia lakukan itu baik atau buruk.
2.Hati
nurani prospektif
Melihat ke
masa depan dan menilai perbuatan-perbuatan kita di masa yang akan datang. Hati
nurani dalam arti ini mengajak kita untuk melakukan sesuatu atau mengatakan
jangan dan melarang untuk melakukan sesuatu.
2. Shame Culture dan Guilt
Culture
Antropologi
budaya membedakan dua macam kebudayaan shame culture (kebudayaan malu) dan
guilt culture (kebudayaan kebersalahan). Kebudayaan malu seluruhnya ditandai
oleh rasa malu dan di situ tidak dikenal rasa bersalah. Kebudayan kebersalahan
terdapat rasa bersalah. Shame culture adalah kebudayan dimana
pengertian-pengertian seperti “hormat, reputasi, nama baik, status, dan gengsi”
sangat ditekankan.
Bila orang melakukan suatu
kejahatan, hal itu tidak dianggap sesuatu yang buruk begitu saja, melainkan
sesuatu yang harus disembunyikan untuk orang lain Bukan perbuatan jahat itu
sendiri yang dianggap penting, tetapi yang penting adalah bahwa perbuatan jahat
tidak akan diketahui, jika perbuatan jahat diketahui, pelakunya menjadi “malu”.
Dalam shame culture sanksinya datang dari luar, yaitu apa yang dipikirkan atau
dikataka oleh orang lain Dalam shame culture tidak ada hati nurani.
Guilt
culture adalah kebudayaan dimana pengertian-pengertian seperti “sin” (dosa),
“guilt” (kebersalahan), dan sebagainya sangat dipentingkan. Sekalipun suatu
kesalahan tidak akan pernah diketahui oleh orang lain, namun si pelaku merasa
bersalah juga. Ia menyesal dan merasa tidak tenang karena perbuatan itu
sendiri, bukan karena sicela atau dikutuk orang lain.
3. Kebebasan
dan tanggung jawab
1.
Kebebasan Eksistensial
Kemampuan untuk menentukan diri
sendiri yang dimiliki tiap-tiap manusia ini disebut kebebasan eksistensial..
2.
Kebebasan Sosial
Kebebasan eksistensial hanya dapat
bergerak sejauh manusia lain tidak menghalang-halanginya. Dengan kata lain,
kebebasan eksistensial manusia adalah kebebasan dari pembatasan oleh niat atau
kehendak manusia lain. Kebebasan jasmani dibatasi dengan paksaan secara fisik,
kebebasan Rohani walaupun tidak dapat dibatasi secara langsung dapat dikurangi melalui tekanan psikis
.
B.Kebebasan Sosial,
Kebebasan Eksistensial dan Tanggung Jawab
Sebagai
makhluk sosial yang memilki kebebasan sosial dan hidup bersama dalam dunia
sosial yang terbatas, sudah jelas bahwa manusia harus menerima bahwa masyarakat
membatasi kesewenangannya. Jadi kebebasan sosial kita terbatas dengan
sendirinya. Namun perlu diketahui juga bahwa masyarakat tidak boleh mengadakan
pembatasan yang sewenang-wenang dengan motif sebagai usaha untuk menjamin
kebebasan dan hak serta kepentingan wajar seluruh warga masyarakat dan harus
normatif. Suatu pembatasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan , tidak dapat
dibenarkan.
4. Nilai dan Norma
Nilai adalah :
· Sifat hal yang penting, berguna bagi kemanusiaan
· Sesuatu yang paling dibanggakan
· Sesuatu yang ingin dicapai
· Sesuatu yang dikagumi
· Kualitas atau fakta
Norma adalah :
· Ukuran
· Suatu aturan
· Pedoman yang mengatur tingkah laku masyarakat
· Standar pertimbangan
5. Hak dan Kewajiban
Hak
merupakanpengakuan yang dibuat oleh orang tau sekelompok orang terhadap
orang atau sekelompok orang lain. Setiap
kewajiban seseorang berkaitan dengan hak orang lain. Kewajiban sempurna artinya
kewajiban didasarkan atas keadialn, selalu terkait dengan hak orang lain.
Sedanhakan kewajiban tidak sempurna, tidak terkait dengan hak orang lain tetapi
bisa didasarkan atas kemurahan hati atau niat berbuat baik.
6. Menjadi Manusia yang Baik
Suatu
kenyataan yang tidak dapat dibantah, kita didunia ini tidak dapat hidup
sendirian, tidak dapat hidup sebatang kara. Kita semua ini bukanlah malaikat,
yang dapat hidup dengan tidak makan, minum, dan lain sebagainya.
Kita adalah manusia, kita adalah
anak Adam yang tidak boleh tidak pasti mempunyai banyak keperluan hidup, baik
bersifat rohani maupun yang bersifat jasmani, baik yang primer maupun yang
sekunder.
Kita semua
tahu hampir semua kebutuhan hidup kita ini sampai kepda kebutuhan hidup kita
yang sekecil-kecilnya sekalipun tidak mungkin dapat kita cukupi hanya dengan
usaha tangan kita sendiri tanpa bantuan orang lain. Kita makan misalnya, setiap
suap nasi yang kita makan, kita memerlukan bantuan puluhan atau bahkan ratusan
dan ribuan orang lain yang bekerja mewujudkan setiap suap nasi kita itu, sejak
mulai biji padi dijatuhkan di tanah, sampai akhirnya berwujud nasi yang siap
untuk dimakan.