
1.Manfaat Belajar Filsafat Ilmu Pengetahuan
Dengan
mempelajari filsafat pengetahuan dan ilmu pengetahuan, khususnya cara kerja
ilmu pengetahuan. Seseorang akan memperoleh manfaat yang besar sekali bagi
kerjanya kelak di kemudian hari sebagai polisi, ahli hukum, wartawan, teknisi,
ataupun sebagai manajer karena pekerjaan-pekerjaan ini - dan semua pekerjaan
lainnya – pada dasarnya berkaitan dengan upaya memecahkan masalah tertentu.
Dalam hal ini, ilmu pengetahuan dibutukan demi memecahkan berbagai persoalan
yang berkaitan dengan perkejaan masing-masing orang secara lebih rasional,
tuntas, dan memuaskan. Ilmu pengetahuan tidak hanya bersifat puritan-elitis,
melainkan juga pragmatis. Dalam pengertian, ilmu pengetahuan tidak hanya
berhenti sekedar memuaskan rasa ingin tahu manusia. Melainkan juga bermaksud
membantu manusia untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi manusia
dalam hidupnya. Salah satu persoalan aktual yang dihadapi kita dalam konteks
Indonesia sekarang ini adalah problem modernisasi. Problem modernisasi adalah
bagaimana memecahkan masalah kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, maupun
penyakit dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ternyata, ilmu pengetahuan
dan teknologi, terlepas dari akibat negatifnya yang pernah dialami manusia,
sekurang-kurangnya hingga sekarang membantu mengurangi penderitaan manusia dan
meningkatkan kesejahteraannya, melalui apa yang kita kenal sebagai proses
modernisasi.
2. Ruang Lingkup dan Kedudukan Filsafat
Dibandigkan
dengan ilmu-ilmu tentang manusia (human studies), filsafat manusia mempunyai
kedudukan yang kurang lebih “sejajar”, terutama kalau dilihat dari objek
materialnya. Objek material filsafat manusia dan ilmu tentang manusia (seperti
sosiologi, antropologi, psikologi) adalah gejala manusia. Baik filsafat manusia
maupun ilmu-ilmu tentang manusia, pada dasarnya bertujuan untuk menyelidiki,
menginterpretasi, dan memahami gejala-gejala atau ekspresi-ekspresi manusia.
Ini berarti bahwa gejala atau ekspresi manusia, baik merupakan objek kajian
filsafat manusia maupun ilmu-ilmu mengenai manusia. Aspek-aspek atau
dimensi–dimensi metafisis, spiritual, dan universal hanya bisa diselidiki
dengan menggunakan metode yang lebih spesifik, misalnya melalui sintesis dan
refleksi. Sintesis dan refleksi bisa dilakuakn sejauh gejalanya masih bisa
dipikirkan. Karenanya filsafat manusia pada akhirnya mampu menjelaskan lebih
ekstensif (menyeluruh) dan Intensif (mendalam) daripada informasi atau teori
yang didapatkan oleh ilimu-ilmu tentang manusia.
3. Sejarah Perkembangan Ilmu
Ilmu
pengetahuan pada awalnya merupakan sebuah sistem yang dikembangkan untuk
mengetahui keadaan lingkungan disekitanya. Selain itu, ilmu pengetahuan juga
diciptakan untuk dapat membantu kehidupan manusia menjadi lebih mudah. Pada
abad ke-20 dan menjelang abad ke-21, ilmu telah menjadi sesuatu yang substantif
yang menguasai kehidupan manusia. Namun, tak hanya itu, ilmu pengetahuan yang
sudah berkembang sedemikian pesat juga telah menimbulkan berbagai krisis
kemanusiaan dalam kehidupan. Hal ini didorong oleh kecenderungan pemecahan
masalah kemanusiaan yang lebih banyak bersifsat sektoral. Salah satu upaya
untuk menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan yang semakin kompleks tersebut
ialah dengan mempelajari perkembangan pemikiran filsafat.
4. Landasaan Penelaan Ilmu
Landasan ilmu itu adalah sebagai berikut :
- Landasan
ontologis adalah tentang objek yang ditelaah ilmu. Hal ini berarti tia
ilmu harus mempunyai objek penelaahan yang jelas. Karna diversivikasi ilmu
terjadi atas dasar spesifikasi objek telaahannya maka tiap disiplin ilmu
mempunyai landasan ontologi yang berbeda;
- Landasan
epistemologi adalah cara yang digunakan untuk mengkaji atau menelaah
sehingga diperolehnya ilmu tersebut. Secara umum metode ilmiah pada
dasarnya untuk semua disiplin ilmuyaitu berupa proses kegiatan
induksi-deduksi-verifikasi seperti telah diuraikan di atas;
- Landasan aksiologi adalah hubungan dengan
penggunaan ilmu tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia.
Denganperkataan lain, apa yang dapat disumbangkan ilmu terhadap
pengembangan ilmu itu dalam meningkakan kualitas hidup manusia.
5. Sarana Berfikir Ilmiah
Sarana
berfikir ilmiah pada dasarnya ada tiga, yaitu : bahasa ilmiah, logika dan
matematika, logika dan statistika. Bahasa ilmiah berfungsi sebagai alat
komunikasi untuk menyampaikan jalan fikiran seluruh proses berfikir ilmiah.
Logika dan matematika mempunyai peranan penting dalam berfikir deduktif
sehingga mudah diikuti dan mudah dilacak kembali kebenarannya. Sedang logika
dan statistika mempunyai peranan penting dalam berfikir induktif dan mencari
konsep-konsep yang berlaku umum
Tujuan
mempelajari sarana berpikir ilmiah adalah untuk memungkinkan kita untuk
menelaah ilmu secara baik. Sedangkan
tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang
memungkinkan kita untuk dapat memecahkan masalah kita sehari-hari.
Fungsi
berfikir ilmiah , sebagai alat bantu untuk mencapai tujuan dalam kaitan
kegiatan ilmiah secara keseluruhan. Dalam hal ini berpikir ilmiah merupakan
alat bagi cabang-cabang ilmu untuk mengembangkan materi pengetahuaannya
berdasarkan metode ilmiah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar